Kenali Gejala dan Pemicu Depresi Postpartum

Kenali Gejala dan Pemicu Depresi Postpartum

Menjadi seorang ibu memang tidaklah mudah, banyak sekali kesulitan, masalah ataupun hal-hal baru yang harus terus dipelajari untuk bisa memberikan yang terbaik untuk sang buah hati. Bahkan mungkin tidak jarang kita, para ibu menahan rasa yang sedang dirasakan, tidak bisa mengungkapkan perasaannya karena bebrapa hal yang mungkin dianggap masyarakat kita tidaklah wajar atau dianggap tabu.

 

Pada kesempatan kali ini, kami ingin berbagai informasi tentang gelaja dan pemicu depsresi postpartum atau yang bisa disebut PPD (Postpartum Depression) yang mungkin dirasakan oleh banyak ibu yang baru saja melahirkan dan menjadi seorang ibu. Bagaimana mengindentifikasi gejala depresi postpartum hingga pertolongan yang diberikan. Kami mengundang Silvia Wetherell, seorang consoler terdaftar yang Pratik di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena, Singapura dengan spesialisasi dalam Postpartum Depression atau PPD.

Kenali Gejala dan Pemicu Depresi Postpartum

#1: Seperti apakah gejala dari PPD dan bagaimana mengetahui jika kamu menjadi salah satu penderita PPD?

Secara general, gejala PPD hampir mirip dengan gejala depresi lainnya, tetapi akan sangat berbeda-beda pada setiap penderitanya. Berikut bebeberapa gejala umum atau tanda-tandanya:

  • Perasaan sedih yang berat
  • Merasa ‘kosong’
  • Mati rasa
  • Merasa gagal dan tidak mampu dalam beberapa hal
  • Rasa khawatir yang berlebihan pada bayi
  • Kurangnya minat atau ketertarikan pada bayi secara umum

 

Alangkah lebih baiknya jika seorang ibu bertanya pada dirinya sendiri “Apakah perasaan takut, kesulitan serta depresi yang dirasakan akan menghalangi dirinya untuk menjadi seorang ibu yang diinginkannya?” Jika kamu ragu dengan jawabannya atau justru menjawab iya, maka yang kamu butuhkan adalah bantuan sesegera mungkin.

 

 #2: Apa perbedaan dari “baby blues” dan PPD?

 

Banyak wanita menunjukkan beberapa gejala depresi setelah melahirkan, hal ini mungkin dianggap normal terjadi, merasa kelelahan, suasana hati atau mood yang tidak menentu atau merasa emosional setelah melahirkan. Tubuh mengalami perubahan hormon yang luar biasa setelah melahirkan, hal ini dapat mempengaruhi emosi dan pikiran, maka dari itu sulit untuk bisa membedakan gejala tersebut adalah gejala “baby blues” yang normal atau justru gejala dari depresi postpartum.

 

Jika gejala di atas terus dirasakan dan meningkat selama lebih dari beberapa minggu, bisa jadi ibu sudah termasuk dalam gejala PPD ringan, segera cari pertolongan jika mulai merasakan halusinasi, delusi atau pemikiran untuk melukai diri sendiri atau bayi.

 

#3: Apa penyebab dari depresi postpartum?

 

Sangatlah normal jika para ibu membutuhkan penjelasan atas apa yang dirasakan, tetapi mencari penjelasan dari penyebab PPD tidak akan bisa membawa perubahan yang lebih baik, yang paling utama dilakukan adalah mencari pertolongan terlebih dahulu.

 

Sangat banyak penyebab dari depresi postpartum, bahkan jutaan penyebab bisa menjadi pemicu terjadinya gejala PPD. Salah satunya adalah latar belakang  keluarga, pola asuh keluarga, keguguran yang mungkin pernah terjadi sebelumnya, harapan yang terlalu tinggi menjadi seorang ibu, ketiadaaan dukungan secara sosial, emosional ataupun finansial, masalah kesehatan dan masih banyak lagi.

 

Beberapa wanita yang menjadi ibu untuk pertama kalinya mungkin akan merasa kaget bahwa strategi yang mereka gunakan dalam karier mereka yang sukses tidak berguna ketika berhadapan dengan bayi dan tidak sesuai dengan harapan atau kenyataannya. Situasi ini juga dapat memburuk jika kamu berusaha untuk mematikan, menyembunyikan atau bahkan "menyingkirkan" perasaan depresi dan cemas tersebut. Ketika kamu mencoba mengendalikan dan menyimpan rasa ini terus menerus, maka dapat menjadi bumerang dan bahkan menciptakan emosi dan pikiran serta situasi yang bahkan lebih sulit dari sebelumnya.

 

#4: Mungkinkah gejala depresi postpartum muncul setelah beberapa saat sehabis melahirkan sang buah hati?

 

Mungkin sekali terjadi. Depresi postpartum bisa saja terjadi, bahkan bukan hanya di saat melahirkan anak pertama, depresi postpartum bisa juga terjadi saat melahirkan anak kedua, anak ketiga dan seterusnya.

 

#5: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa sembuh dari PPD?

 

Setiap ibu sangatlah unik, hal ini justru membuat sulit untuk memperediksi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan PPD dari masing-masing ibu. Saat proses penyembuhan, kamu bisa melihat proses ini sebagai tahapan untuk bisa mengenal diri sendiri lebih dalam dan lebih baik lagi. Pengalaman ini bisa memperkaya rasa dan pengetahuan kamu sebagai seorang ibu dan mengenal diri sendiri lebih baik dari sebelumnya. Nikmati prosesnya dan jangan malu untuk mencari pertolongan serta mengungkapkan rasa yang sedang kamu rasakan ke orang-orang terdekat.

#6: Bagaimana cara mendapatkan bantuan atau pertolongan?

 Mulailah dengan membuka diri kepada orang-orang terdekat, yang kamu percayai akan mendukung dan membesarkan buah hati bersama. Buat janji dengan dokter untuk membicarakan dan menanyakan tentang opsi konseling (bahkan mungkin ditanggung oleh polis asuransi). Beberapa wanita mungkin memerlukan obat, sementara untuk yang lain, bisa cukup dengan bantuan dukungan psikologis. Penting untuk memilih seorang konselor yang membuat kamu merasa nyaman dan dapat membuka diri, jadi jangan takut untuk mulai mencari tahu dan banyak-banyak membaca tentang gejala depresi postpartum. 

Tentang Silvia Wetherell:

Silvia Wetherell adalah seorang praktisi konselor yang terdaftar di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena, Singapura. Silvia memiliki minat khusu dalam kesehatan mental ibu, membantu kliennya bekerja melalui depresi dan kecemasan sebelum dan sesudah melahirkan, keguguran, trauma melahirkan, anger management dan masalah pengasuhan dini.  

 

 

 

Share: